17 September 2010

JALAN DESA SUDAH DIASPAL....

Sabtu (11/09), atau lebaran ke-2 saya sampai juga di desa Serut tercinta. Kaget, kagum bercampur senang ketika melihat jalan yang ke arah balai desa, terus ke timur ke arah ketanggung semuanya sudah di aspal. Setelah bertahun-tahun jalanan berupa batu-batu, kini telah halus mulus dilapisi oleh aspal. Saya sempat mencoba menelusuri dengan gerobak tua saya... hhm.. halus sekali.

Begitu juga ketika saya coba gowes ria keesokan harinya bersama si sulung, aroma bau aspalnya masih terasa, menandakan baru beberapa saat atau beberapa hari selesai dikerjakan.

Mudah2an kondisi jalannya akan bertahan lama, tidak gampang tergerus dan rusak oleh air hujan.

(maaf foto2 tidak ada)

05 Juli 2010

ARTIKEL BAGUS : SARJANA PENCARI KERJA

Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian, melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya.

"Kita banyak menciptakan sarjana pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja, itu membuat masyarakat kita terbiasa makan gaji sehingga tidak mandiri dan kreatif," ujar Ciputra di hadapan peserta seminar "Entrepreneurship Inspiring Our Journey" yang digelar di SMA Kolese Kanisius, Jakarta, Sabtu (29/8).

Entrepreneur atau wirausahawan, kata pria yang akrab disapa Pak Ci' ini, adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran atau rongsokan menjadi emas. Dengan demikian, kata dia, negara selama ini hanya mencetak begitu banyak sarjana yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya, tetapi menjadikan mereka lulusan yang tidak kreatif.

"Malaysia punya lebih banyak wirausahawan daripada Indonesia, kini mereka lebih maju karena pendapatannya yang empat kali lebih besar dari Indonesia," ujar Pak Ci'.


Sarjana pencari kerja

Makin banyak entrepreneur, sejatinya semakin makmur suatu negara. Ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) David McClelland pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika minimal mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2 persen dari jumlah penduduk di negara tersebut.

Menurut Ir Antonius Tanan, Direktur Human Resources Development (HRD) Ciputra Group yang juga menangani Ciputra Entrepreneurship School (CES), bahwa pada 2007 lalu AS memiliki 11,5 persen wirausahawan di negaranya.

Sementara itu, Singapura memunyai 4,24 juta wirausahawan pada 2001 atau sekitar 2,1 persen. Namun, empat tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 7,2 persen, sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18 persen jumlah wirausahawan.

"Negara kita terlalu banyak memiliki perguruan tinggi dan terlalu banyak menghasilkan sarjana, tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan banyaknya lapangan kerja," tandas Antonius.

"Akhirnya kita hanya banyak melahirkan pengangguran terdidik, tahun 2008 kita punya 1,1 juta penganggur yang merupakan lulusan perguruan tinggi," ujarnya.Data tahun 2005/2006, misalnya, lanjut Antonius, terdapat 323.902 lulusan perguruan tinggi yang lulus. Kemudian dalam waktu 6 bulan dari Agustus 2006 sampai Februari 2007, jumlah penganggur terdidik naik sebesar 66.578 orang.

"Generasi muda kita tidak memiliki kecakapan menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri karena mereka terbiasa berpikir untuk mencari kerja," ujar Antonius.

dikutip dari : www.unic77.tk

Laporan kondisi Serut terkini

Minggu kemaren (27/06 s.d 01/07) saya pulang ke Serut dalam rangka mengisi liburan anak sekolah. Hujan masih turun sekali kali selama disana namun dominan dengan cuaca panasnya. Warga melakukan kegiatan dan rutinitasnya masing-masing dari pagi buta. Pagi yang berkabut saat itu.

Padi di sawah sudah menguning menandakan sebentar lagi akan dipanen. Di beberapa blok sawah bahkan sudah ada yang mulai dipanen. Banyak rombongan tenaga pemanen padi dari wilayah lain, biasanya dari desa2 disekitar Buayan dan sekitarnya, yang lalu lalang lewat kearah timur dimana mereka mencari atau melanjutkan panenan padi yang berada di daerah sebelah timur.

Saya sempat menyusuri jalan-jalan di wilayah desa Serut bersama anak yang besar dengan mengendarai sepeda "Gazelle" tua. Saat ini kondisinya masih sama, belum ada perubahan yang menonjol. Kondisinya masih berupa tatanan campuran batu kerikil dan batu sedang yang hanya mampu mengurangi becek setelah hujan turun. Kami harus memilih bagian jalan yang halus supaya perjalanan dapat terasa nyaman. Setelah puas berkeliling diwilayah desa serut kami juga sempat melalui jalan di daerah dusun Plurung yang masuk ke wilayah desa Bendungan. Kondisi jalan di sana sudah halus karena sudah di lapisi dengan aspal. Kami menelusuri ke arah timur (Semampir) dan jalan yang sudah halus itu nyambung sampai sana.

Di sisi lain di sudut desa kita, ternyata semangat gotong royong masih terasa di antara warga. Hal ini dapat dilihat dari proses perbaikan rumah Bpk. Niswan. Warga ramai-ramai bergotong royong bahu mambahu melakukan tugasnya masing-masing. Menurut informasi yang diterima, Bpk Niswan memperoleh bantuan dari pemerintah desa untuk memperbaiki rumahnya.

Secara umum kondisi, suasana dan irama aktifitas warga di desa Serut masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Belum ada perubahan yang mencolok.

22 Juni 2010

DESA SERUT MAU DIASPAL....




Desa kita udah mau di aspal..? Aspal sudah diturunkan...mudah-mudah tidak lama lagi jalan di desa Serut sudah dilapisi aspal... ben alus muluzz....

KEMERIAHAN HUT DESA SERUT


Pertandingan Catur



Jalan santai

Sesepuh PWS Jaya dan Oom Tunggul, mudah2 sedang membahas masa depan Desa Serut..;)

Balap karung.. favoritku nih...



Lomba memasak


Hhm.. makan kerupuk...? kayaknya enak kalo diganti makan pizza...




Becak Racing... seru boss


Pembagian doorprize oleh Oom Tunggul..




Selamat berjuang mas2 dan bapak2...


Penerimaan bantuan mesin jahit

Itulah sebagian kecil gambaran keceriaan warga dalam menyambut HUT Desa Serut..